-->

Berita

Kabar Jatim

Daerah

Hukrim

Berita Pilihan

29/06/2026

Peletakan Batu Pertama Resmi Awali Pra TMMD Ke-129 di Desa Ledok Tempuro


Lumajang , (Onenewsjatim)-
Komitmen mempercepat pembangunan desa melalui kolaborasi lintas sektor kembali diwujudkan dalam pelaksanaan Pra TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Tahun Anggaran 2026 di Desa Ledok Tempuro, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang. 

Kegiatan yang dihadiri langsung oleh Komandan Kodim 0821/Lumajang, Letkol Arh Anton Subhandi, S.A.P., M.I.P., diawali dengan peletakan batu pertama secara simbolis oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Lumajang bersama Camat Randuagung sebagai penanda dimulainya pekerjaan fisik TMMD. Senin(29/6/2026)

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kasdim 0821/Lumajang, unsur Forkopimcam Randuagung, Kepala Desa Ledok Tempuro beserta perangkat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga yang menyambut dimulainya program dengan penuh antusias.

Prosesi peletakan batu pertama menjadi simbol dimulainya pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga memperkuat sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang merata hingga pelosok desa.

Dalam keterangannya, Dandim 0821/Lumajang Letkol Arh Anton Subhandi menegaskan bahwa TMMD merupakan program strategis yang mengedepankan semangat gotong royong sebagai kekuatan utama dalam mempercepat pembangunan wilayah.

"Pra TMMD menjadi awal dari pengabdian bersama untuk menghadirkan pembangunan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kami berharap seluruh unsur, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, terus bersinergi sehingga setiap sasaran program dapat diselesaikan tepat waktu dan berkualitas," ungkapnya.

Pada TMMD ke-129 Tahun Anggaran 2026, salah satu sasaran fisik utama adalah pembangunan jalan rabat beton sepanjang 840 meter dengan lebar 3,5 meter dan ketebalan 20 sentimeter. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu meningkatkan konektivitas antarwilayah, memperlancar akses transportasi warga, serta mendukung distribusi hasil pertanian yang menjadi penopang perekonomian masyarakat Desa Ledok Tempuro.

Melalui peletakan batu pertama tersebut, Pra TMMD ke-129 resmi dimulai dengan semangat kebersamaan dan pengabdian. Kehadiran seluruh unsur pemerintah, TNI, dan masyarakat menjadi bukti bahwa pembangunan akan lebih cepat terwujud ketika dilaksanakan secara kolaboratif, demi menciptakan desa yang semakin maju, mandiri, dan sejahtera.(Pendim0821)

TMMD Ke-129 Perkuat Kemanunggalan TNI-Rakyat, Dandim Lumajang: Gotong Royong adalah Kekuatan Utama


Lumajang, (Onenewsjatim) –
Pelaksanaan Pra TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Tahun Anggaran 2026 di Desa Ledok Tempuro, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang, resmi diawali dengan doa bersama, Senin (29/6/2026). 

Kegiatan tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian program pembangunan yang melibatkan sinergi TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Doa bersama berlangsung khidmat dengan dihadiri Komandan Kodim (Dandim) 0821/Lumajang Letkol Arh Anton Subhandi, S.A.P., M.I.P., didampingi Kasdim 0821/Lumajang, jajaran Koramil, unsur Forkopimcam Randuagung, tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat desa, serta warga setempat.

Program TMMD ke-129 diawali dengan pembangunan jalan rabat beton sepanjang 840 meter, lebar 3,5 meter, dan ketebalan 20 sentimeter. 

Pembangunan infrastruktur tersebut diharapkan mampu meningkatkan akses transportasi warga, memperlancar distribusi hasil pertanian, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Desa Ledok Tempuro.

Komandan Kodim 0821/Lumajang Letkol Arh Anton Subhandi mengatakan, doa bersama menjadi momentum untuk memohon kelancaran seluruh rangkaian kegiatan Pra TMMD hingga pelaksanaan TMMD selesai sesuai target.

"Pra TMMD ini menjadi langkah awal yang sangat penting. Kami memohon doa dan dukungan seluruh masyarakat agar setiap tahapan pekerjaan dapat berjalan sesuai rencana. Melalui semangat gotong royong, kami optimistis pembangunan jalan ini akan memberikan manfaat jangka panjang bagi warga Desa Ledok Tempuro," ujar Letkol Arh Anton Subhandi.

Ia menegaskan, TMMD tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menjadi wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat dalam mempercepat pembangunan di wilayah pedesaan.

Menurutnya, keberhasilan TMMD sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung dan terlibat dalam setiap tahapan kegiatan agar hasil pembangunan dapat dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

"Dengan kebersamaan dan semangat gotong royong, kami yakin program TMMD ke-129 akan berjalan sukses serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dan rakyat dalam mewujudkan desa yang maju, mandiri, dan sejahtera," pungkasnya.


Pantau Lahan Pertanian Warga, Polsek Pasrujambe Pastikan Produktivitas Tetap Terjaga


Lumajang, (Onenewsjatim) –
Kepolisian Sektor (Polsek) Pasrujambe terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program Ketahanan Pangan Nasional melalui pendampingan terhadap sektor pertanian di wilayah hukumnya.

Salah satu upaya tersebut dilakukan dengan memantau langsung perkembangan tanaman jagung dan padi di Dusun Pakurejo, Desa Pagowan, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang.

Personel Polsek Pasrujambe turun ke lahan pertanian untuk memastikan kondisi tanaman tetap produktif sekaligus menjalin komunikasi dengan para petani guna mengetahui berbagai kendala yang dihadapi selama masa tanam.

Kapolsek Pasrujambe, AKP Sujianto, S.H., mengatakan bahwa keterlibatan kepolisian dalam sektor pertanian merupakan bentuk dukungan nyata terhadap program pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.

"Kami menginstruksikan seluruh jajaran untuk aktif menyambangi lahan pertanian warga. Polsek Pasrujambe berkomitmen penuh mengawal program ketahanan pangan nasional dari level paling dasar, yakni mendampingi para petani agar masa tanam hingga panen berjalan optimal tanpa kendala kamtibmas," ujar AKP Sujianto.

Menurutnya, komoditas jagung menjadi salah satu potensi unggulan di wilayah Pasrujambe yang perlu terus dijaga produktivitasnya. Karena itu, pengecekan rutin dilakukan agar setiap persoalan yang dihadapi petani dapat segera ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan pihak terkait.

"Melalui pengecekan rutin dan komunikasi langsung dengan petani, kami dapat mendeteksi lebih dini berbagai kendala seperti pengairan, ketersediaan pupuk, maupun serangan hama, sehingga koordinasi dengan penyuluh pertanian bisa segera dilakukan," jelasnya.

Selain melakukan pemantauan, Polsek Pasrujambe juga mengimbau masyarakat agar memanfaatkan lahan produktif secara maksimal serta segera melaporkan apabila terdapat gangguan keamanan yang berpotensi menghambat aktivitas pertanian.

AKP Sujianto menegaskan, keberhasilan program ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada petani, tetapi juga membutuhkan sinergi seluruh pihak.

"Ketahanan pangan yang kuat merupakan pondasi terciptanya keamanan wilayah yang kondusif. Kami berharap sinergi antara TNI, Polri, pemerintah desa, penyuluh pertanian, dan kelompok tani semakin erat sehingga swasembada pangan dapat terwujud," pungkasnya.

Tujuh Kali Rampok Minimarket di Blitar dan Jombang, Tiga Pelaku Dibekuk Polisi


Blitar, (Onenewsjatim) –
Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Blitar Kota berhasil mengungkap komplotan pelaku pencurian dengan kekerasan (curas) yang menyasar minimarket 24 jam di wilayah Blitar dan Jombang.

Tiga orang tersangka ditangkap, sementara tiga pelaku lainnya masih dalam pengejaran dan telah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

Kapolres Blitar Kota, AKBP Kalfaris Triwijaya Lalo, mengatakan pengungkapan kasus tersebut merupakan hasil penyelidikan intensif atas aksi perampokan di sebuah minimarket di Jalan Mastrip Nomor 27, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, yang terjadi pada Sabtu (6/6/2026) sekitar pukul 03.50 WIB.

"Dari hasil penyidikan, kelompok ini diketahui telah melakukan aksi pencurian dengan kekerasan sebanyak tujuh kali dalam kurun waktu sekitar tiga bulan," ujar AKBP Kalfaris dalam konferensi pers, Senin (29/6/2026).

Tiga tersangka yang telah diamankan masing-masing berinisial YDS (23) warga Kabupaten Kediri, MJS (23) warga Kabupaten Trenggalek, dan ISL (23) warga Kabupaten Kediri. Sementara tiga pelaku lain berinisial RS, AD, dan AP masih diburu aparat kepolisian.

Menurut Kapolres, dari tujuh lokasi kejadian, tiga di antaranya berada di wilayah hukum Polres Blitar Kota, yakni di Kecamatan Srengat, Ponggok, dan Pengkol. Sedangkan empat lokasi lainnya berada di wilayah hukum Polres Jombang.

Sebelum beraksi, para pelaku terlebih dahulu melakukan survei untuk memastikan minimarket yang menjadi sasaran memiliki brankas penyimpanan uang serta memantau kondisi keamanan di sekitar lokasi.

"Mereka memilih waktu antara tengah malam hingga menjelang subuh saat aktivitas pelanggan sangat sepi. Ketika beraksi, pelaku membawa senjata tajam berupa parang, celurit, dan pisau dapur untuk mengancam karyawan minimarket," jelas AKBP Kalfaris.

Dalam aksi di minimarket Srengat, komplotan tersebut berhasil membawa kabur uang tunai sekitar Rp44 juta. Sementara total kerugian dari tiga aksi di wilayah hukum Polres Blitar Kota diperkirakan mencapai lebih dari Rp100 juta.

Hasil penyidikan juga mengungkap bahwa uang hasil kejahatan digunakan para pelaku untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga membeli kendaraan bermotor.

Polisi menyebut YDS diduga berperan sebagai otak sekaligus pemimpin komplotan. Ia disebut selalu terlibat dalam setiap aksi, mulai dari menentukan target, mengatur jalannya perampokan, hingga membawa tas untuk mengangkut uang hasil kejahatan.

Adapun anggota lainnya memiliki peran berbeda, mulai dari penyedia sarana, pelaku yang mengancam korban menggunakan senjata tajam, hingga pengemudi yang mengantar dan menjemput para pelaku saat menjalankan aksinya.

Polres Blitar Kota kini masih melakukan pengejaran terhadap tiga anggota komplotan yang masih buron serta mendalami kemungkinan keterlibatan mereka dalam tindak pidana serupa di wilayah lain.

Atas perbuatannya, ketiga tersangka dijerat Pasal 479 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenai tindak pidana pencurian dengan kekerasan, dengan ancaman pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Kabur hingga Jawa Tengah, DPO Curanmor Asal Bondowoso Akhirnya Dibekuk Polisi


Bondowoso, (Onenewsjatim)
– Kepolisian Resor (Polres) Bondowoso berhasil mengungkap dua kasus pencurian sepeda motor, termasuk menangkap seorang daftar pencarian orang (DPO) kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang sempat buron sejak April 2026.

Kapolres Bondowoso, AKBP Aryo Dwi Wibowo, mengatakan tersangka berinisial JS, warga Bondowoso, berhasil ditangkap di Gerbang Tol Kalikangkung, Jawa Tengah, setelah tim Satreskrim melakukan pengejaran.

"Kami melakukan pengejaran dan berhasil mengamankan yang bersangkutan di pintu Tol Kalikangkung. Selanjutnya tersangka langsung kami bawa ke Bondowoso untuk menjalani proses hukum," ujar AKBP Aryo dalam keterangannya, Sabtu (27/6/2026).

Kasus tersebut bermula dari laporan pencurian kendaraan bermotor yang diterima polisi pada 8 April 2026. Dalam pengungkapan perkara itu, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa dokumen kendaraan, antara lain BPKB, STNK, serta salinan rekaman kamera pengawas (CCTV)

Selain menangkap DPO curanmor, Polres Bondowoso juga mengungkap kasus pencurian sepeda motor lainnya yang terjadi di wilayah Desa Jambeanom, Kecamatan Jambesari Darus Sholah.

Kapolres menjelaskan, tersangka berinisial AS, warga Kecamatan Maesan, diduga mencuri sepeda motor Honda Supra X bernomor polisi P 2024 PC milik korban yang saat itu diparkir di halaman rumah.

"Saat ini para tersangka sudah kami amankan dan kami proses sesuai ketentuan hukum yang berlaku," kata AKBP Aryo.

Ia menegaskan, jajaran Polres Bondowoso berkomitmen menindak tegas setiap bentuk tindak kriminal yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

"Apa pun bentuknya, tindakan yang meresahkan masyarakat dan mengganggu kamtibmas di wilayah hukum Polres Bondowoso akan kami tindak tegas," tegasnya.

Polres Bondowoso juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dengan memastikan kendaraan diparkir di tempat yang aman, menggunakan kunci pengaman tambahan, serta segera melapor kepada pihak kepolisian apabila mengetahui atau menjadi korban tindak kejahatan. (Red(




Diduga Depresi, Pria di Lumajang Ditemukan Tewas di Dalam Sumur Sedalam 10 Meter


Lumajang, (Onenewsjatim)
– Seorang pria bernama Alim (42), warga Dusun Jowoan, Desa Blukon, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, ditemukan meninggal dunia di dalam sumur sedalam 10 meter pada Senin (29/6/2026) pagi. 

Korban diduga kuat nekat mengakhiri hidupnya lantaran mengalami depresi.

Proses evakuasi jasad korban berlangsung dramatis karena melibatkan tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Lumajang.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengonfirmasi bahwa petugas harus menggunakan peralatan penyelamatan lengkap (rescue) untuk turun ke dalam sumur yang berdiameter sempit tersebut.

"Tadi sekitar pukul 06.00 WIB jasad korban berhasil kami evakuasi dari dalam sumur. Setelah dilakukan pemeriksaan medis di lokasi, yang bersangkutan dinyatakan sudah meninggal dunia," ujar Isnugroho saat dikonfirmasi, Senin (29/6/2026).

Sementara itu, Kasi Humas Polres Lumajang, Ipda Suprapto, membeberkan kronologi penemuan jasad korban. Peristiwa bermula pada Senin dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Ibu kandung korban, Bawon, terbangun dari tidurnya dan langsung memeriksa kamar Alim.

Namun, saat itu Alim tidak berada di tempat tidurnya. Merasa curiga, sang ibu berusaha mencari korban di sekitar area rumah, tetapi tidak membuahkan hasil.

"Karena tidak ditemukan, ibu korban kemudian meminta bantuan kepada Kepala Dusun untuk bersama-sama melakukan pencarian. Akhirnya, korban ditemukan sudah berada di dalam sumur dengan kedalaman sekitar 10 meter dan diameter hanya 80 sentimeter," jelas Suprapto.

Mengetahui kondisi korban berada di dalam sumur, perangkat desa langsung menghubungi pihak kepolisian

"Petugas Polsek Lumajang Kota bersama tim BPBD dan Damkar Kabupaten Lumajang segera mendatangi TKP untuk melakukan proses evakuasi," imbuhnya.

Alami Depresi Sejak Sepekan Terakhir

Berdasarkan hasil penyelidikan dan keterangan dari pihak keluarga, Alim diketahui menunjukkan perubahan perilaku dan mengalami depresi selama satu minggu terakhir.

"Keterangan keluarga menyatakan korban sudah sekitar satu minggu ini mengalami depresi. Korban kerap tidak merespons atau diam saja saat diajak bicara. Namun, selama ini korban tidak memiliki riwayat penyakit fisik apa pun," kata Suprapto.

Polisi juga memastikan bahwa hubungan internal antara korban dan keluarganya selama ini harmonis. Korban juga diketahui tidak memiliki permasalahan pribadi atau permusuhan dengan orang lain di lingkungannya.

Setelah berhasil diangkat dari dalam sumur, jasad Alim langsung menjalani pemeriksaan luar oleh bidan desa setempat untuk memastikan penyebab kematian.

"Hasil pemeriksaan luar menyatakan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan pada tubuh korban. Sehingga disimpulkan, diduga kuat korban melakukan aksi bunuh diri dengan cara melompat ke dalam sumur," tutur Suprapto.

Pihak keluarga menyatakan telah menerima kejadian ini sebagai musibah dan menolak untuk dilakukan proses autopsi mendalam di rumah sakit.

"Keluarga sudah menerima dengan ikhlas kematian korban, tidak menghendaki autopsi, dan bersedia membuat surat pernyataan resmi," pungkasnya. (Imam)


28/06/2026

Festival Segoro Topeng Kaliwungu 2026 di Lumajang Tampilkan 500 Penari, Wisatawan Asing Terpukau


Lumajang (Onenewsjatim)
– Festival Segoro Topeng Kaliwungu kembali memukau ribuan pengunjung di Pantai Watu Pecak, Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Minggu (28/6/2026). 

Pagelaran budaya yang menjadi bagian dari agenda Karisma Event Nusantara (KEN) itu menghadirkan tarian kolosal yang dibawakan sekitar 500 penari.

Mengusung tema "Lamadjang: The Land of Glory", pertunjukan tersebut mengangkat kisah lahirnya Negeri Lamadjang melalui perpaduan seni tari, musik, dan budaya khas Lumajang. 

Hamparan pasir hitam Pantai Watu Pecak menjadi panggung megah bagi ratusan penari yang tampil serempak dengan penuh semangat dan penghayatan.

Ribuan masyarakat memadati bibir pantai sejak pagi untuk menyaksikan pertunjukan. 

Antusiasme tidak hanya datang dari warga lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara asal Spanyol, Prancis, China, hingga Slovakia yang turut menikmati kemeriahan festival.

Salah seorang wisatawan asal Slovakia, Mery, mengaku terkesan dengan pertunjukan yang disaksikannya.

"Saya senang bisa menyaksikan langsung, karena pertunjukan ini sangat luar biasa. Semua penari ciliknya saya suka," ujarnya.

Festival tersebut melibatkan sekitar 500 penari dari jenjang SD, SMP, hingga SMA di Kabupaten Lumajang. Mereka menampilkan Tari Topeng Kaliwungu secara kolosal sebagai bentuk pelestarian budaya daerah.

Salah satu peserta, Jingga, mengaku bangga bisa menjadi bagian dari pertunjukan tersebut.

"Senang sekali bisa tampil di Segoro Topeng Kaliwungu. Persiapannya cukup matang karena saya memang sudah lama ikut menari. Bagi saya, tampil seperti ini sudah menjadi kebiasaan," katanya.

Sementara itu, Bupati Lumajang, Indah Amperawati, mengatakan Festival Segoro Topeng Kaliwungu menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya Lumajang di tingkat nasional melalui Karisma Event Nusantara.

Menurutnya, kepercayaan yang diberikan pemerintah pusat menjadi tanggung jawab bagi Kabupaten Lumajang untuk menjaga sekaligus mengembangkan warisan budaya tak benda yang dimiliki.

"Kami diberikan kesempatan oleh kementerian untuk memperkenalkan kisah-kisah Indonesia melalui budaya. Ini merupakan warisan budaya tak benda yang harus kami jaga kelestariannya dan terus kami kembangkan sebagai bentuk komitmen kami sebagai daerah penyelenggara KEN," ujar Bunda Indah 

Ia menegaskan, pelestarian Tari Topeng Kaliwungu akan terus diperkuat melalui dunia pendidikan agar generasi muda semakin mengenal budaya daerahnya.

"Kami akan terus mengembangkan Topeng Kaliwungu melalui sekolah-sekolah. Hari ini kita melihat sendiri anak-anak kelas 2 dan kelas 3 SD sudah mampu menampilkan tarian dengan sangat baik sekaligus memahami sejarahnya. Ini menjadi kebanggaan bagi kami," tambahnya 

Bunda Indah juga mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat dan wisatawan yang hadir, termasuk tamu dari berbagai daerah seperti Bali maupun wisatawan mancanegara.

"Festival Segoro Topeng Kaliwungu tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga mampu memperkuat sektor pariwisata dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kabupaten Lumajang," Pungkasnya 




Pemerintah

Olahraga

Peristiwa

Politik

© Copyright 2024 Onenewsjatim | All Right Reserved