-->

Berita

Kabar Jatim

Daerah

Hukrim

Berita Pilihan

25/06/2026

Truk Pasir Terjun ke Jurang 13 Meter di Lumajang, Dipicu As Roda Patah


Lumajang, (Onenewsjatim)
– Sebuah truk pengangkut pasir mengalami kecelakaan tunggal dengan terjun ke jurang sedalam sekitar 13 meter di area tambang pasir bawah Jembatan Besuk Kobokan, Dusun Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Kamis (25/6/2026) siang.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Sopir truk berhasil menyelamatkan diri dengan melompat dari kendaraan sesaat sebelum truk terperosok ke dasar jurang.

Kasubsi PIDM Sie Humas Polres Lumajang, Ipda Suprapto, membenarkan adanya insiden kecelakaan tunggal yang terjadi sekitar pukul 13.30 WIB tersebut.

Menurutnya, kecelakaan diduga dipicu kerusakan teknis pada kendaraan saat sedang mengangkut muatan pasir dari lokasi tambang.

“Telah terjadi musibah truk angkutan pasir terperosok ke jurang akibat roda as belakang mengalami patah. Beruntung tidak ada korban jiwa karena pengemudi berhasil menyelamatkan diri dengan cara melompat dari kendaraan,” kata Ipda Suprapto saat dikonfirmasi, Kamis.

Insiden bermula ketika truk bernomor polisi P 8879 yang dikemudikan oleh Rosid, warga Dusun Sumberkajar, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, tengah membawa muatan penuh pasir. 

Saat melewati jalur menanjak di area tambang, as roda belakang truk tiba-tiba patah.

Kondisi tersebut membuat truk kehilangan tenaga dan kendali. Kendaraan berat itu kemudian berjalan mundur dengan cepat di jalanan menurun hingga akhirnya terperosok ke dalam jurang setinggi kurang lebih 13 meter. 

Menyadari bahaya yang mengancam nyawanya, sang sopir mengambil keputusan cepat untuk menyelamatkan diri.

"Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Begitu kendaraan tidak bisa dikendalikan, pengemudi langsung melompat dari kendaraan," jelas Suprapto.

Akibat benturan keras usai terjatuh dari ketinggian 13 meter, bodi truk mengalami kerusakan yang cukup parah. 

Bersama warga setempat dan pekerja tambang segera melakukan upaya evakuasi bangkai truk dari dasar jurang.

Sekitar pukul 15.00 WIB, proses pengangkatan badan truk berhasil dilakukan dengan mengerahkan satu unit alat berat.

"Truk sudah dievakuasi dengan menggunakan alat berat excavator ke tempat yang aman," tutupnya.

Partisipasi Angkatan Kerja Lumajang Merosot ke 69,64 Persen, Pengangguran Justru Turun


Lumajang, (Onenewsjatim) –
Kondisi ketenagakerjaan di Kabupaten Lumajang sepanjang 2025 menunjukkan fenomena yang tidak lazim. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,35 persen, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) justru mengalami penurunan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat TPAK Lumajang pada 2025 berada di angka 69,64 persen, turun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 70,86 persen. 

Penurunan tersebut menunjukkan semakin sedikit penduduk usia kerja yang aktif masuk dalam pasar kerja, baik sebagai pekerja maupun pencari kerja.

Menariknya, pada saat yang sama jumlah pengangguran di Lumajang juga mengalami penurunan. Jika pada 2024 terdapat 21.263 orang pengangguran, maka pada 2025 jumlahnya berkurang menjadi 19.771 orang.

Fenomena tersebut menjadi perhatian Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lumajang karena secara teori penurunan pengangguran biasanya diikuti meningkatnya jumlah penduduk yang bekerja.

Kepala Disnaker Lumajang Subechan mengatakan kondisi tersebut menjadi anomali dalam data ketenagakerjaan daerah.

“Anomali-nya di situ. Idealnya ketika pengangguran turun, jumlah penduduk bekerja naik. Tetapi yang terjadi justru jumlah penduduk bekerja juga mengalami penurunan,” kata Subechan.

Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk bekerja di Kabupaten Lumajang pada 2024 mencapai 627.319 orang. Namun pada 2025 jumlah tersebut turun menjadi 622.064 orang atau berkurang sebanyak 5.255 pekerja.

Sementara itu jumlah angkatan kerja juga mengalami penyusutan. Pada 2024 tercatat sebanyak 648.582 orang masuk kategori angkatan kerja, sedangkan pada 2025 turun menjadi 641.835 orang.

Menurut Subechan, salah satu faktor yang dapat menjelaskan kondisi tersebut adalah banyaknya pekerja formal yang memasuki masa pensiun. Selain itu, sebagian pekerja sektor informal yang sudah lanjut usia atau mengalami gangguan kesehatan memilih berhenti bekerja.

“Kalau dari sisi nonformal, orang yang sudah lanjut usia atau sakit mereka tidak mau kerja lagi,” ujarnya.

Ia juga menilai terdapat kemungkinan munculnya kelompok pengangguran yang sudah kehilangan harapan untuk mendapatkan pekerjaan. Kelompok ini tidak lagi aktif mencari pekerjaan sehingga dalam survei ketenagakerjaan tidak selalu tercatat sebagai pengangguran.

“Atau orang yang sudah lama jadi angkatan kerja, karena tidak nemu lowongan ya sudah tidak mau kerja,” jelasnya.

Selain itu, perubahan pola pikir generasi muda juga disebut berpengaruh terhadap dinamika ketenagakerjaan. Sebagian lulusan sekolah menengah kejuruan maupun sekolah menengah atas memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi daripada langsung memasuki dunia kerja.

“Bisa juga anak yang lulus SMK harusnya bekerja, tetapi mereka memilih melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi,” katanya.

Di sisi lain, perkembangan ekonomi digital juga membuat banyak aktivitas kerja sulit terdeteksi dalam pendataan konvensional. Menurut Subechan, sebagian Generasi Z memperoleh pendapatan melalui platform digital, pekerjaan lepas, maupun sistem berbasis pesanan yang tidak terikat hubungan kerja formal.

“Mereka bekerja tapi tidak kelihatan dan tidak terdeteksi sebab mereka kerja secara mandiri. Hanya melayani pesanan khusus. Saat tidak dapat orderan mereka tidak bekerja, tetapi saat ada job mereka bekerja,” terangnya.

Disnaker juga menyoroti keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah cukup besar. Namun hingga kini status para pekerja di dapur MBG masih menjadi perdebatan karena sebagian besar disebut sebagai relawan.

Menurut Subechan, istilah relawan kurang tepat digunakan apabila seseorang menerima imbalan atau gaji atas pekerjaan yang dilakukan.

“Yang tercatat di MBG itu hanya tiga kepala SPPG, akuntan dan ahli gizi. Sementara yang lain disebut relawan. Padahal mereka tidak memenuhi syarat disebut relawan karena digaji,” tegasnya.

Karena itu Disnaker Lumajang mendorong seluruh pengelola SPPG untuk memberikan kepastian status ketenagakerjaan melalui Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) kepada para pekerja yang terlibat.

“Saya sudah bersurat kepada kepala pelaksana SPPG di Lumajang untuk meminta data jumlah pekerjanya, tetapi sampai sekarang belum diberikan,” pungkasnya. (Imam)

Pelemparan Batu Kembali Terjadi, Dua Kereta Penumpang Rusak Saat Melintas di Probolinggo


Lumajang , (Onenewsjatim) –
Aksi pelemparan batu terhadap kereta api kembali terjadi di wilayah operasional PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember. Dalam kurun waktu sepekan terakhir, dua kereta penumpang yang melintas di petak jalan antara Stasiun Leces dan Stasiun Probolinggo menjadi sasaran pelemparan oleh orang tak dikenal (OTK).

Peristiwa terbaru terjadi pada Minggu (21/6/2026), saat KA Logawa dan KA Ijen Ekspres melintas di jalur tersebut. Batu yang dilempar mengenai rangkaian kereta hingga menyebabkan kaca mengalami keretakan. 

Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun penumpang yang mengalami luka dalam insiden tersebut.

Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, mengecam keras tindakan yang dinilai membahayakan keselamatan perjalanan kereta api tersebut.

"Kami mengutuk keras aksi pelemparan batu terhadap KA Logawa dan KA Ijen Ekspres yang terjadi baru-baru ini. Pelemparan terhadap kereta api yang sedang berjalan adalah tindakan yang sangat berbahaya. Dampaknya bisa fatal apabila batu menembus kaca dan melukai kru maupun penumpang di dalam kereta," ujar Cahyo.

Menurutnya, aksi pelemparan bukan sekadar kenakalan atau tindakan iseng semata. Perbuatan tersebut dapat mengancam keselamatan ratusan penumpang dan kru yang berada di dalam rangkaian kereta api.

Meski demikian, data yang dihimpun KAI Daop 9 Jember menunjukkan tren kasus pelemparan batu mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada tahun 2025 tercatat enam kasus, sementara hingga pertengahan tahun 2026 terdapat lima kasus.

Kasus pada tahun 2025 tersebar di Kecamatan Ledokombo dan Rambipuji, Kabupaten Jember, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang, serta Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi.

Sementara itu, sepanjang tahun 2026, kejadian serupa tercatat terjadi di Kecamatan Bangsalsari dan Pakusari, Kabupaten Jember, Kecamatan Kedopok dan Wonoasih, Kota Probolinggo, dengan wilayah Wonoasih tercatat mengalami dua kali kejadian.

Sebagai upaya pencegahan, KAI Daop 9 Jember memperkuat sistem pengamanan dan pengawasan di sejumlah titik rawan. Salah satu langkah yang kini diterapkan adalah pemanfaatan teknologi drone untuk memantau jalur kereta api dari udara.

"Kami terus meningkatkan langkah preventif melalui patroli rutin di jalur kereta api, sosialisasi kepada masyarakat, hingga pemanfaatan drone untuk memantau area-area yang dianggap rawan terhadap gangguan keamanan dan ketertiban," jelas Cahyo.

Selain patroli udara, KAI juga menggencarkan edukasi kepada masyarakat melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Sosialisasi dilakukan secara langsung kepada warga yang tinggal di sekitar jalur rel agar turut menjaga keselamatan perjalanan kereta api.

KAI Daop 9 Jember juga melakukan pendekatan kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda melalui program security awareness. Langkah ini dilakukan untuk membangun kesadaran kolektif bahwa keamanan perjalanan kereta api merupakan tanggung jawab bersama.

Cahyo menegaskan bahwa pelaku pelemparan batu dapat dijerat dengan sanksi pidana yang berat. Berdasarkan Pasal 194 ayat (1) KUHP, tindakan yang membahayakan keamanan umum dapat dikenakan ancaman pidana penjara hingga 15 tahun.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian juga melarang setiap orang melakukan tindakan yang dapat merusak maupun mengganggu sarana dan prasarana perkeretaapian.

"Kami mengajak seluruh masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar jalur kereta api, untuk meningkatkan kepedulian dan pengawasan lingkungan. Jangan sampai ada anak-anak ataupun oknum yang melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan perjalanan kereta api," tegasnya.

Ia juga meminta masyarakat segera melaporkan kepada petugas stasiun atau pihak kepolisian apabila melihat aktivitas mencurigakan yang berpotensi mengganggu operasional kereta api.

"Keselamatan perjalanan kereta api bukan hanya tanggung jawab KAI. Dukungan dan peran aktif seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan agar perjalanan kereta api tetap aman, selamat, dan nyaman bagi seluruh pelanggan," pungkas Cahyo.

Babinsa dan Warga Gotong Royong Bangun Rumah Kodrah, Program Rutilahu Capai 71 Persen


Lumajang, (Onenewsjatim)
-Program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) terus menjadi salah satu instrumen nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Lumajang. Lebih dari sekadar pembangunan fisik, program tersebut menjadi wujud kepedulian bersama dalam menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi warga kurang mampu.

Hal tersebut disampaikan Babinsa Sememu Koramil 0821-08/Pasirian, Sertu Rokhibul Imam, saat bersama warga melaksanakan pemasangan pintu rumah milik Kodrah, penerima bantuan Rutilahu di Dusun Krajan RT 007 RW 005, Desa Sememu, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Kamis (25/6/2026).

Warga dan Babinsa bekerja bahu-membahu menyelesaikan tahapan pembangunan rumah. Kegiatan tersebut mencerminkan kuatnya budaya gotong royong yang masih terjaga di tengah masyarakat pedesaan sebagai modal sosial dalam membantu sesama.

Dalam kesempatan itu, Sertu Rokhibul Imam mengatakan bahwa program Rutilahu dari Provinsi Jawa Timur tersebut, bukan hanya tentang membangun rumah yang kokoh, tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Menurutnya, tempat tinggal yang layak akan berdampak langsung terhadap kesehatan, kenyamanan, serta semangat keluarga dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

"Rumah yang layak merupakan kebutuhan dasar setiap keluarga. Ketika masyarakat memiliki tempat tinggal yang aman dan nyaman, mereka akan lebih optimis dalam menjalani kehidupan dan membangun masa depan keluarganya, Dan Alhamdulillah hari ini rumah milik Ibu Kodrah sudah mencapai 71 persen, harapanya rumah tersebut dapat selesai secepatnya," kata dia.

Ia menambahkan, keterlibatan TNI dalam pendampingan program Rutilahu merupakan bagian dari tugas pembinaan teritorial dalam membantu pemerintah daerah sekaligus bentuk kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat di wilayah binaan.

Program tersebut juga menjadi bukti bahwa pembangunan tidak hanya bertumpu pada pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Kehadiran warga yang turut membantu proses pembangunan menunjukkan bahwa rasa kepedulian dan solidaritas sosial masih tumbuh kuat di lingkungan desa.

Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, TNI, dan masyarakat, program Rutilahu diharapkan mampu mempercepat pengentasan kemiskinan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.

Bagi Kodrah dan keluarganya, rumah yang sedang dibangun bukan hanya bangunan tempat tinggal, melainkan simbol hadirnya kepedulian dan kebersamaan. Dari dinding-dinding yang mulai berdiri itu, tersimpan harapan baru akan kehidupan yang lebih aman dan sehat. (Pendim0821)

Rawat Hasil Pembangunan, Babinsa Kedawung dan Warga Gotong Royong Tata Bahu Jalan


Lumajang, (Onenewsjatim)-
Semangat kebersamaan dan gotong royong terus ditunjukkan Babinsa Kedawung Koramil 0821-20/Padang, Serda Imam Muarib, melalui keterlibatannya dalam kegiatan kerja bakti bersama masyarakat di Dusun Krajan RT 06 RW 02, Desa Kedawung, Kecamatan Padang, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Kamis (25/6/2026).

Kegiatan kerja bakti tersebut difokuskan pada pembersihan sepanjang ruas jalan desa serta pemerataan tanah di sisi jalan pasca pelaksanaan rabat beton. Upaya itu dilakukan untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan para pengguna jalan, sekaligus memperindah lingkungan sekitar.

Serda Imam Muarib mengatakan bahwa keterlibatan Babinsa dalam kegiatan kerja bakti merupakan bagian dari pembinaan teritorial yang bertujuan mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat. Selain membantu meringankan pekerjaan warga, kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkuat semangat gotong royong yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat pedesaan.

"Melalui kerja bakti ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran bersama akan pentingnya menjaga fasilitas umum. Jalan yang bersih dan rapi akan memberikan kenyamanan serta meningkatkan keselamatan bagi masyarakat yang melintas setiap hari," kata dia.

Di lokasi kegiatan, Kepala Dusun Krajan, Sutik mengatakan bahwa perawatan jalan pasca rabat beton menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. 

Menurutnya, kegiatan pembersihan dan pemerataan tanah di sepanjang ruas jalan merupakan langkah awal untuk menjaga kualitas infrastruktur agar tetap aman dan nyaman digunakan dalam jangka panjang. Ia juga berharap masyarakat memiliki kesadaran untuk terus merawat jalan yang telah dibangun sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi mendatang dan mendukung kelancaran aktivitas sosial maupun ekonomi warga.

"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan merawat jalan yang sudah dibangun ini. Pembersihan dan pemerataan tanah di sisi jalan bukan hanya untuk kepentingan saat ini, tetapi juga sebagai upaya agar kondisi jalan tetap awet, aman, dan dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka waktu yang lama. Dengan perawatan yang rutin, kami berharap jalan ini dapat mendukung aktivitas warga serta memperlancar perekonomian desa," pungkasnya.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan kesadaran masyarakat dalam merawat hasil pembangunan desa semakin meningkat, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Selain itu, sinergi yang terjalin antara TNI dan masyarakat juga menjadi modal penting dalam mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif. (Pendim0821)

24/06/2026

Kerja Keras Tak Mengkhianati Hasil, Dewi Ratih Lolos Fakultas Kedokteran Unhan RI


Lumajang, (Onenewsjatim) –
Kebahagiaan menyelimuti keluarga besar Ipda Untoro, S.H. dan Aiptu Rima Mayangga Rivasari, S.H., M.H. Putri mereka, Dewi Ratih Kumala Tungga, berhasil menembus ketatnya seleksi Program Studi S1 Kedokteran Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), salah satu perguruan tinggi negeri yang dikenal memiliki standar akademik dan karakter yang tinggi.

Keberhasilan Dewi bukanlah capaian yang hadir dalam semalam. Di balik pengumuman kelulusan yang membanggakan itu, tersimpan perjalanan panjang penuh disiplin, pengorbanan, dan ketekunan yang dijalani selama menempuh pendidikan di SMAN 2 Taruna Bhayangkara Jawa Timur.

Dewi, yang merupakan Taruna Bhayangkara Angkatan V, dikenal aktif dalam berbagai kegiatan akademik maupun pembinaan karakter. Lingkungan pendidikan yang menekankan kedisiplinan dan kepemimpinan menjadi bekal penting dalam membentuk mental serta semangat juangnya menghadapi persaingan masuk perguruan tinggi.

Bagi sang ayah, Ipda Untoro, keberhasilan putrinya merupakan anugerah yang patut disyukuri sekaligus buah dari kerja keras yang selama ini dilakukan Dewi dengan penuh kesungguhan.

"Alhamdulillah, kami sekeluarga sangat bersyukur atas pencapaian ini. Dewi telah berjuang dengan sungguh-sungguh, belajar dengan tekun, dan melewati berbagai tahapan seleksi yang tidak mudah. Sebagai orang tua, kami hanya berusaha memberikan dukungan, doa, dan motivasi agar ia tetap fokus mengejar cita-citanya," ujar Untoro saat ditemui, Rabu (24/6/2026).

Menurutnya, pendidikan bukan hanya soal mengejar nilai akademik, melainkan juga membangun karakter yang kuat. Nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan semangat pantang menyerah selalu ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Kami selalu mengajarkan bahwa keberhasilan harus dibangun dengan kerja keras dan integritas. Saya berharap Dewi dapat menjaga amanah ini, terus belajar dengan rendah hati, serta mengabdikan ilmu yang diperolehnya untuk masyarakat, bangsa, dan negara," katanya.

Perasaan haru juga dirasakan oleh sang ibu, Aiptu Rima Mayangga Rivasari. Sebagai sosok yang setiap hari mendampingi proses belajar putrinya, ia menjadi saksi bagaimana Dewi harus mengorbankan banyak waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.

"Sebagai seorang ibu, saya melihat sendiri perjuangan Dewi setiap hari. Banyak waktu yang ia korbankan untuk belajar dan mempersiapkan diri. Alhamdulillah, semua usaha dan doa akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan," tutur Rima dengan mata berbinar.

Ia menilai, keberhasilan tersebut bukan semata tentang diterima di kampus impian, tetapi juga tentang proses pembentukan karakter yang telah ditempa selama bertahun-tahun.

"Kami selalu mengingatkan bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari prestasi akademik. Akhlak, kedisiplinan, kepedulian terhadap sesama, dan integritas jauh lebih penting. Semoga Dewi tetap rendah hati dan kelak menjadi dokter yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat," ungkapnya.

Masuknya Dewi ke Program Studi S1 Kedokteran Universitas Pertahanan RI menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa dengan kerja keras, disiplin, serta dukungan keluarga yang kuat, generasi muda daerah mampu bersaing di tingkat nasional.

Kini, langkah baru telah menanti Dewi Ratih Kumala Tungga. Di kampus yang mengedepankan perpaduan antara keunggulan akademik, nasionalisme, dan pengabdian, ia akan memulai perjalanan panjang untuk mewujudkan cita-citanya sebagai dokter.

Harapan keluarga pun sederhana, agar ilmu yang diperoleh kelak tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi jalan pengabdian bagi bangsa dan masyarakat Indonesia.

Dapur MBG Tutup Selama Libur Sekolah, Relawan di Lumajang Kesulitan Ekonomi


Lumajang, (Onenewsjatim)-Penghentian sementara operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah membawa dampak langsung bagi para relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. 

Tidak hanya kehilangan aktivitas harian, mereka juga harus menghadapi terhentinya sumber penghasilan yang selama ini membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Surat Edaran Kepala BGN Nomor 12 Tahun 2026 menghentikan sementara penyaluran program MBG mulai 22 Juni hingga 13 Juli 2026. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai penyesuaian operasional selama masa libur sekolah.

Bagi sebagian relawan, keputusan itu berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi rumah tangga mereka.

Rita, salah seorang relawan SPPG di Lumajang, mengaku mulai merasakan kesulitan sejak dapur tidak lagi beroperasi. Selama ini, pendapatan yang diterimanya setiap dua minggu sekali menjadi salah satu sumber pemasukan rutin.

"Biasanya ada pemasukan tiap dua minggu sekali. Sekarang tidak ada karena memang tidak digaji saat tidak bekerja. Untung saya belum menikah, jadi kebutuhannya tidak terlalu banyak," kata Rita, Rabu (24/6/2026).

Meski baru beberapa hari tidak bekerja, Rita mengaku mulai khawatir dengan kondisi keuangan ke depan. Apalagi harga sejumlah kebutuhan pokok dinilai terus mengalami kenaikan.

Menurutnya, kondisi yang dialami rekan-rekannya bahkan lebih berat. Beberapa relawan yang menjadi tulang punggung keluarga terpaksa mencari pekerjaan lain demi tetap mendapatkan penghasilan.

"Ada relawan yang sampai mencari kerja sebagai asisten rumah tangga untuk menghidupi anak-anaknya karena dia seorang janda. Ada juga yang mencari pekerjaan sampingan dan berjualan," ujarnya.

Sebagian besar relawan lainnya, lanjut Rita, kembali menjalani aktivitas sebagai ibu rumah tangga selama dapur MBG tidak beroperasi. Namun hilangnya pemasukan tambahan tetap dirasakan karena sebelumnya pendapatan dari program tersebut dapat membantu kebutuhan keluarga.

Kendati demikian, Rita mengaku tidak memiliki pilihan selain menunggu operasional dapur kembali dibuka sesuai jadwal yang ditetapkan pemerintah.

"Ya tetap saya menunggu dapur buka lagi," katanya.

Ia berharap pemerintah tidak hanya memperhatikan pengelola atau kepala SPPG, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan para relawan yang selama ini terlibat langsung dalam proses memasak hingga distribusi makanan.

"Kami juga bekerja, memasak, menyiapkan makanan, distribusi. Kami mengeluarkan tenaga. Harapannya kesejahteraan relawan juga diperhatikan," tuturnya.

Keluhan serupa disampaikan Budi (bukan nama sebenarnya), relawan SPPG lainnya di Lumajang. Ia mengaku penghentian sementara operasional dapur membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk kewajiban membayar cicilan.

"Kalau rumah tangga pasti ada kebutuhan sehari-hari dan bayar utang. Ya bingung juga kalau dapur tutup," kata Budi.

Menurutnya, penghasilan dari program MBG selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga. Karena itu, berhentinya aktivitas dapur membuat sejumlah relawan harus memutar otak mencari sumber pendapatan lain selama masa libur berlangsung.

Sementara itu, Mitra SPPG Rogotrunan, Kecamatan Lumajang, Chiko, menyatakan pihaknya mengikuti kebijakan yang telah ditetapkan oleh BGN. Menurutnya, penghentian sementara operasional dapur tidak memberikan dampak signifikan terhadap pengelolaan SPPG.

"Saya sebagai mitra yang baik manut BGN saja. Aktivitas dapur istirahat sementara sambil tetap dijaga agar aman," ujar Chiko melalui pesan singkat.

Meski demikian, ia mengakui para relawan untuk sementara waktu tidak menerima upah karena tidak ada kegiatan produksi maupun distribusi makanan.

"Upah dari BGN memang tidak ada selama libur. Kasihan juga," katanya.

Chiko menjelaskan, dari sekitar 50 relawan yang selama ini bertugas di SPPG Rogotrunan, sebagian besar diliburkan. Hanya sejumlah personel inti yang tetap menjalankan tugas piket.

"Yang tetap aktif hanya kepala dapur, akuntan, ahli gizi, dan petugas keamanan. Relawan lainnya libur," ujarnya.

Saat tim media mencoba menyambangi Dapur Pisang Agung di Jalan Kolonel Suwandi, pihak pengelola menolak memberikan keterangan dengan dalih prosedur administrasi.

"Ada surat tugasnya? Kalau ID Card media saja kami tidak berani. Mohon maaf," cetus salah satu petugas berseragam SPPG di lokasi.

Pemerintah

Olahraga

Peristiwa

Politik

© Copyright 2024 Onenewsjatim | All Right Reserved